Wednesday, October 14, 2015

GOOSEBUMPS (2015) Movie Review







"Bro, baru kali ini gua ketemu ama cewek yang karakternya kayak begini!!!"
"Iya, tapi elu santai aja, kenapa malah jadi heboh kayak begini sih?"
"Gue takut kalo kali ini sampe gagal dan harus kecewa kayak dulu - dulu"
"Ya elah bro, baru kenal seminggu masa udah baper-an kayak begini?"
"Ah elu juga sih, foto kami berdua segala dikasih ke Mirza, kan temen - temen jadi heboh semua pas liat tuh foto di grup proyek jabon?!!"
"Biasa aja dong bro, lagian tuh foto Cintaku Bersemi Di Bukit Telawang juga pasti bakalan kesebar nantinya..."
"Argghhh... Pokoknya jadi heboh begini semuanya salah lo~"
"......... -____-"
Dan sepanjang perjalanan ke bioskop hingga scene pembuka film hanya di-isi curhatan baper seorang lelaki bernama Budi kepada temannya yang bernama Budi juga, perihal ngajakin calon gebetannya ke pesta perkawinan temen kami yang bernama Budi juga.
(note: semua percakapan aslinya memakai Bahasa Banjar)


 Anak 90-an pastinya tau dong dengan novel horror anak- anak dan remaja yang berjudul Goosebumps?. Bahkan mungkin diantara ente - ente sekalian ada yang punya koleksi lengkap seri ini?. Yap, mulai dari Goosebumps, Goosebumps 2000 hingga Goosebumps Petualangan Maut yang bisa kita atur sendiri alur ceritanya, karya R.L. Stine ini selalu laris dan menjadi best seller di seluruh dunia. Dan tahun ini, Goosebumps diangkat menjadi film yang dibintangi oleh aktor kawakan, Jack Black.

Zach bersama dengan ibu-nya Gale baru saja pindah dari kota besar ke daerah pinggiran kota. Daerah pinggiran kota yang sepi, damai dan masih asri. Hanya saja tetangga baru mereka terbilang cukup aneh untuk bisa dibilang "normal". Dan nampaknya si tetangga baru ini sangat menutup dirinya dan anak perempuannya yang bernama Hannah dari pergaulan lingkungan sekitar. Bahkan dia sengaja tidak menyekolahkan anak perempuannya di sekolah umum dan lebih memilih home-schooling.
Suatu malam, Hannah dimarahi habis - habisan oleh ayahnya, karena pulang berdua dengan Zach. Dan keanehan mulai terjadi, ketika Zach melaporkan tindak kekerasan sang ayah ke polisi, sang ayah malah mengaku hanya tinggal sendirian dan tidak ada orang lain di rumah.
Merasa sangat khawatir pada Hannah, akhirnya Zach bersama teman barunya di sekolah, Champ, nekat membobol masuk ke rumah orang misterius tersebut demi menyelamatkan Hannah.
Dan yang mereka temukan setelah masuk ke rumah tersebut adalah rak buku dengan puluhan buku yang di-gembok dan di-segel dengan amat rapi. Buku - buku yang tentu judul - judulnya sangat familiar dengan masa kecil mereka, yaitu naskah dari serial Goosebumps. Namun mereka membuat kesalahan dengan membuka gembok dari salah satu buku yang mereka temukan itu.
Kehebohan apa yang terjadi setelah mereka membuka segel buku tersebut?. Siapakah sebenarnya ayah-nya Hannah tersebut?. Mengapa dia sangat menghindari kontak sosial dengan orang - orang?. Serta bagaimana Zach, Hannah dan Champ mengatasi kekacauan yang terjadi?. Saksikan hanya di GOOSEBUMPS.


Dirilis 2 hari lebih awal dari USA, dan bertepatan dengan hari libur nasional, serta mengandalkan nama besar seri Goosebumps, nampaknya strategi dari Sony Picture Indonesia cukup berhasil untuk menjaring banyak penonton di hari pertama rilis di Indonesia ini.
Untuk film-nya sendiri menurut ane ya so so lah... tipikal film remaja keluarga yang emang gak perlu banyak pikir, cukup enjoy the show dan gak perlu mikirin plot hole yang banyak banget ada di film ini. Karena kekuatan utama dari film ini sebenarnya ya unsur komedi yang kental banget dan bikin ngakak sepanjang film. Khusus bagi temen ane (yang namanya Budi juga) beberapa scene bikin dia kaget mampus, karena emang ini film lumayan bikin shock juga.
Dan aktor dan aktrisnya juga kece sih, Dylan Minnete yang meranin Zach cute bangeeetttt... Odeya Rush yang meranin Hannah juga cantik bro... versi remaja-nya Mila Kunis sih kalo ane mau komentar. Jack Black-nya juga so pasti bakalan bikin ente - ente ngakak. Tapi porsi tersebar racun lawakan di film ini sebenarnya ada di karakter Champ (Ryan Lee) yang karakternya sampah abissss... Cupu gilaaaa...

Disutradarai Rob Letterman yang dulu juga pernah bekerja sama dengan Jack Black di film Gulliver's Travels, Goosebumps merupakan pilihan film yang cocok dinikmati anda sekeluarga, atau bersama - sama teman se-geng, karena kita bakalan bisa ngakak sama - sama. Yang masa lalu-nya juga dipenuhi buku - buku R.L. Stine pastinya wajib nonton dong, sekalian nostalgia....
Next mungkin Fear Street yang bakalan diangkat jadi major picture? Who knows???
Finally, sama seperti yang ane sudah prediksi, Goosebumps bukanlah film untuk anda yang ingin mencari kedalaman cerita, tapi unsur fun yang ada di film ini cukup di rekomendasikan untuk anda yang emang lagi butuh refreshing.
In my opinion, Goosebumps scored 6,5 out of 10.

IMDb: 7,1/10
Metascore: 60/100
Rotten Tomatoes: 78%

Salah khilaf mohon maaf.
Wassalam~
Reviewed by Mbah Budi, Banjarmasin 15 Oktober 2015.

Thursday, April 16, 2015

WEWE (2015) Movie Review


Celingak - celinguk mbah nyari hawa keberadaan para vvota di hari pertama penayangan film terbaru dan debut karakter utama dari Nabilah Ratna Ayu Azalea alias Nabilah JKT48 di film WEWE, namun hawa keberadaan mereka sangat tipis. Mbah denger sih, Nabilaholic Banjarmasin mau ngadain nonton bareng hari minggu ini, jadi mungkin aja mereka baru bakalan nonton weekend ini.
Soalnya sama seperti kasus film VIVA JKT48, gak banyak yang nonton film-nya, padahal fans-nya bejibun dari Sabang sampai Merauke. Khawatir-nya sih raihan penonton film WEWE ini bakalan jeblok juga kayak VIVA JKT48. Yah, harap maklum lah soalnya mbah dulu pernah jadi wota (sekarang udah insyaf) dan Nabilah sendiri adalah oshi pertama mbah di JKT48.

Koq mbah malah berasa curhat ya? -___-

Berhubung males bikin sinopsis, berikut sinopsis-nya mbah copy paste dari WowKeren:

Jarot (Agus Kuncoro) beserta sang istri, Irma (Inong Nidya Ayu), dan kedua anaknya, Luna (Nabilah) dan Aruna (Khadijah Banderas), harus pindah ke sebuah rumah baru karena Jarot baru saja pindah tugas. Rumah itu sangat luas dan berada disebuah jalanan yang terpencil jauh dari kebisingan ibukota. Bu Surti, adalah seorang pembantu rumah tangga yang sudah belasan tahun berkerja juga ikut pindah bersama keluarga ini. Rumah tersebut tampak nyaman tetapi ada satu perabotan yang cukup mengganggu, yaitu sebuah ranjang tua terbuat dari kayu jati dan memiliki bentuk dan ukiran aneh. Ukirannya berbentuk seorang wanita yang sedang berteriak. Ranjang tua ini berada disebuah ruangan yang terletak di lantai atas.

Pada awalnya kehidupan keluarga ini baik-baik saja, lambat laun banyak terjadi perubahan yang cukup drastis pada Aruna. Aruna adalah sosok yang sangat aktif dan periang, kini dia menjadi tertutup dan pendiam, hanya Luna yang menyadari hal ini. Jarot dan Irma sebagai orangtuanya tidak terlalu memperhatikan karena keduanya sering bertengkar. Pertengkaran ini terjadi semenjak Irma semakin sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Jarot menambah permasalahan dengan sikapnya yang keras.

Penyebab perubahan Aruna adalah beberapa kali dia merasa seperti melihat 'seseorang' di kamar tamu atau kamar tidurnya. Aruna mencoba membicarakan hal ini kepada orangtuanya tapi karena orangtuanya tidak menanggapi dengan serius, mereka tidak memperdulikan kecemasan Aruna. Luna juga merasa sedih dan murung dengan keadaan orang tuanya, namun pemikiran ini dia alihkan dengan kegiatannya menari Jawa.

Luna merasakan juga ada kejanggalan di rumah, namun itu ia rasakan sebagai tanda-tanda 'kecapean'. Sementara bu Surti, memutuskan untuk pergi dari rumah setelah dia melihat dengan jelas 'penunggu' yang menghantui rumah itu.

Suatu hari tiba-tiba Aruna menghilang dari rumah tanpa jejak, tanpa pesan, dan semua barang-barang miliknya masih ada di kamarnya. Kemanakah Aruna? Rahasia apakah yang ada di balik ranjang misterius? Bagaimanakah Luna dan orang tuanya mengambil Aruna kembali dari pangkuan mahluk yang bernama 'Wewe'?


Nilai jual utama film ini tentu saja adalah sang karakter utama, yaitu Kang Bajay Bawa Berkah si Nabilah JKT48 dan sang produser, Rizal Mantovani. Dan tentu-nya kita semua tahu reputasi film "Tusuk Jelangkung" serta kualitas video klip yang di sutradarai oleh Rizal Mantovani. "Tusuk Jelangkung" sendiri sampai sekarang masih dianggap sebuah cult movie bagi dunia perfilman Indonesia.
Jadi tidak heran apabila visualisasi di film WEWE ini sangat apik disertai dengan tone warna yang sangat memikat mata. Sinematografi dan penata artistik dari film ini harus diacungi jempol.

Naskahnya sendiri sangat erat dengan kehidupan sehari - hari masyarakat Indonesia, legenda wewe gombel pun sudah menjadi urban legend yang terus menerus diturunkan dari generasi ke generasi. Akan tetapi nampak-nya naskah-nya kurang dipoles lagi, sehingga alur-nya mudah ditebak dan ceritanya sangat klise. Kalo dari segi akting sih ya lumayan lah, dibilang bagus enggak, jelek juga enggak. Sepanjang film, WEWE hanya menjual efek ngagetin dengan scene - scene dimana sang hantu tiba - tiba muncul dengan backsound yang juga gak kalah ngagetin, gitu doang... gak ada terobosan baru... dan lagi - lagi lagu Lingsir Wengi dijadikan senjata untuk bikin merinding para penontonnya (mbah rada - rada phobia ama lagu itu soalnya).

Scoringnya juga biasa, tipikal film horor Indonesia pada umumnya lah, tapi pemakaian lagu "Satu - Satu Aku Sayang Ibu" memang rada membantu membangun keseraman cerita sih, meskipun gak banyak. Bisa dibilang film ini cuman sekedar sinetron / FTV horor yang punya visualisasi dan spesial efek yang keren.

So? Recommended or not?. Jika anda vvota, apalagi kalo nge-oshi-in Nabilah JKT48, maka film ini adalah tontonan wajib. Mumpung Nabilah jadi pemeran utama, sisihkanlah waktu anda ke bioskop untuk menonton film ini. Kapan lagi kita bisa nonton Nabilah sepanjang film lengkap dengan jerawat - jerawatnya? lagian senbatsu juga sebentar lagi kan?.
Dan bagi anda penikmat film horor, ibarat sebuah game, difficulty dari film ini cuma sekedar "Beginner Mode", horor-nya nanggung. Tapi gak sedikit juga yang keluar dari teater pasang tampang puas sambil ngomong: "Gile, serem banget...". Sepanjang film juga penuh dengan teriakan penonton yang teriak - teriak ketakutan gara - gara ni film. Jadi bagi yang nonton cuman sekedar nyari fun, WEWE kayaknya bisa dinikmatin bareng temen, keluarga atau pacar. Tapi kalo udah addict banget ama horor mending gak dulu deh.
Saran mbah kalo DVD-nya rilis atau film-nya udah tayang di TV, mending coba nonton sendirian deh malam - malam, kayaknya sih lumayan nge-bantu bikin merinding dari pada nonton rame - rame di bioskop.

Visualisasi dan spesial efek yang keren dan indah. Naskah yang biasa - biasa saja serta ketegangan yang biasa -biasa saja. So much cheesy...
WEWE scored 6 out of 10.

Review diatas hanyalah opini dari saya, pasti banyak yang berpikiran sebaliknya tentang film diatas. Mari hargai hak tiap - tiap orang dalam berpendapat, serta selalu dukung dunia perfilman Indonesia.
AYO NONTON FILM INDONESIA!.

Reviewed by Mbah Budi, Banjarmasin 17 April 2015.
Untuk NontoNation (BBM Channel:  C004D520A)
 
Jarot (Agus Kuncoro) beserta sang istri, Irma (Inong Nidya Ayu), dan kedua anaknya, Luna (Nabilah) dan Aruna (Khadijah Banderas), harus pindah ke sebuah rumah baru karena Jarot baru saja pindah tugas. Rumah itu sangat luas dan berada disebuah jalanan yang terpencil jauh dari kebisingan ibukota. Bu Surti, adalah seorang pembantu rumah tangga yang sudah belasan tahun berkerja juga ikut pindah bersama keluarga ini. Rumah tersebut tampak nyaman tetapi ada satu perabotan yang cukup mengganggu, yaitu sebuah ranjang tua terbuat dari kayu jati dan memiliki bentuk dan ukiran aneh. Ukirannya berbentuk seorang wanita yang sedang berteriak. Ranjang tua ini berada disebuah ruangan yang terletak di lantai atas.
Pada awalnya kehidupan keluarga ini baik-baik saja, lambat laun banyak terjadi perubahan yang cukup drastis pada Aruna. Aruna adalah sosok yang sangat aktif dan periang, kini dia menjadi tertutup dan pendiam, hanya Luna yang menyadari hal ini. Jarot dan Irma sebagai orangtuanya tidak terlalu memperhatikan karena keduanya sering bertengkar. Pertengkaran ini terjadi semenjak Irma semakin sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Jarot menambah permasalahan dengan sikapnya yang keras.
Penyebab perubahan Aruna adalah beberapa kali dia merasa seperti melihat 'seseorang' di kamar tamu atau kamar tidurnya. Aruna mencoba membicarakan hal ini kepada orangtuanya tapi karena orangtuanya tidak menanggapi dengan serius, mereka tidak memperdulikan kecemasan Aruna. Luna juga merasa sedih dan murung dengan keadaan orang tuanya, namun pemikiran ini dia alihkan dengan kegiatannya menari Jawa.
Luna merasakan juga ada kejanggalan di rumah, namun itu ia rasakan sebagai tanda-tanda 'kecapean'. Sementara bu Surti, memutuskan untuk pergi dari rumah setelah dia melihat dengan jelas 'penunggu' yang menghantui rumah itu.
Suatu hari tiba-tiba Aruna menghilang dari rumah tanpa jejak, tanpa pesan, dan semua barang-barang miliknya masih ada di kamarnya. Kemanakah Aruna? Rahasia apakah yang ada di balik ranjang misterius? Bagaimanakah Luna dan orang tuanya mengambil Aruna kembali dari pangkuan mahluk yang bernama 'Wewe'?
- See more at: http://www.wowkeren.com/film/wewe/#sthash.p0ROGCnO.dpuf
Jarot (Agus Kuncoro) beserta sang istri, Irma (Inong Nidya Ayu), dan kedua anaknya, Luna (Nabilah) dan Aruna (Khadijah Banderas), harus pindah ke sebuah rumah baru karena Jarot baru saja pindah tugas. Rumah itu sangat luas dan berada disebuah jalanan yang terpencil jauh dari kebisingan ibukota. Bu Surti, adalah seorang pembantu rumah tangga yang sudah belasan tahun berkerja juga ikut pindah bersama keluarga ini. Rumah tersebut tampak nyaman tetapi ada satu perabotan yang cukup mengganggu, yaitu sebuah ranjang tua terbuat dari kayu jati dan memiliki bentuk dan ukiran aneh. Ukirannya berbentuk seorang wanita yang sedang berteriak. Ranjang tua ini berada disebuah ruangan yang terletak di lantai atas.
Pada awalnya kehidupan keluarga ini baik-baik saja, lambat laun banyak terjadi perubahan yang cukup drastis pada Aruna. Aruna adalah sosok yang sangat aktif dan periang, kini dia menjadi tertutup dan pendiam, hanya Luna yang menyadari hal ini. Jarot dan Irma sebagai orangtuanya tidak terlalu memperhatikan karena keduanya sering bertengkar. Pertengkaran ini terjadi semenjak Irma semakin sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan Jarot menambah permasalahan dengan sikapnya yang keras.
Penyebab perubahan Aruna adalah beberapa kali dia merasa seperti melihat 'seseorang' di kamar tamu atau kamar tidurnya. Aruna mencoba membicarakan hal ini kepada orangtuanya tapi karena orangtuanya tidak menanggapi dengan serius, mereka tidak memperdulikan kecemasan Aruna. Luna juga merasa sedih dan murung dengan keadaan orang tuanya, namun pemikiran ini dia alihkan dengan kegiatannya menari Jawa.
Luna merasakan juga ada kejanggalan di rumah, namun itu ia rasakan sebagai tanda-tanda 'kecapean'. Sementara bu Surti, memutuskan untuk pergi dari rumah setelah dia melihat dengan jelas 'penunggu' yang menghantui rumah itu.
Suatu hari tiba-tiba Aruna menghilang dari rumah tanpa jejak, tanpa pesan, dan semua barang-barang miliknya masih ada di kamarnya. Kemanakah Aruna? Rahasia apakah yang ada di balik ranjang misterius? Bagaimanakah Luna dan orang tuanya mengambil Aruna kembali dari pangkuan mahluk yang bernama 'Wewe'?
- See more at: http://www.wowkeren.com/film/wewe/#sthash.p0ROGCnO.dpuf

Wednesday, April 15, 2015

THE LAST NARUTO THE MOVIE (2014) REVIEW



"Apabila besok adalah hari kehancuran bumi, maka ingin bersama siapakah kamu untuk terakhir kalinya?" tanya Iruka-sensei pada murid - muridnya.
Lalu Hinata muda langsung menuliskan nama Uzumaki Naruto di lembaran kertas jawabannya.
Cieee... Cieeee... So Swiiiiiiiiyyyytttt~~~.


Problematika utama para penonton di Banjarmasin adalah kurangnya pasokan film - film Asia, terutama film Jepang dan movie anime. Dan kebetulan mbah ada di luar Banjarmasin selama 3 hari, jadi mbah sempetin nonton The Last Naruto The Movie di Blitz Megaplex.
Sebenernya sih udah banyak review film ini di luaran sono, ya sekedar pelengkap aja sih review mbah kali ini, lagian pas film Fast Furious 7 kemaren mbah juga ga sempet review kan?.


Beberapa tahun setelah Perang Ninja Ke-4, Naruto yang dulunya di-bully, cemen, dan tidak populer kini telah menjelma menjadi seorang pahlawan dan idola di seluruh penjuru desa Konoha. Tapi Naruto yang gak peka dan lugu masih saja tidak menyadari bahwa ada seorang wanita yang sangat - sangat mencintainya sejak dia masih kecil. Dan Hinata juga masih sama seperti dulu, pemalu dan tidak berani menyatakan perasaannya pada Uzumaki Naruto. Kepopuleran Naruto sekarang malah semakin membuat Hinata semakin minder dan tidak percaya diri.

Di era yang damai tersebut, tiba - tiba dunia dikejutkan dengan teror yang datang dari seseorang yang bernama Toneri. Dia ingin menghancurkan bumi dengan cara menyeret bulan agar jatuh ke bumi. Satu persatu anggota keluarga klan Hyuga di bunuh, bahkan adik Hinata, Hyuga Hanabi diculik dan di rampas mata Byakugan-nya. Mampukah Shikamaru, Sakura, Sai, Naruto dan Hinata menyelamatkan Hanabi?. Serta mampukah Toneri dihentikan?. Bagaimanakah nasib bumi selanjutnya?. Saksikan hanya di The Last Naruto The Movie!.

Diawali dengan scene awal pertemuan Hinata dengan Naruto pertama kali sewaktu kecil, sudah jelas arah dan alur cerita dari film ini akan fokus pada cerita percintaan dari Naruto Uzumaki dan Hinata Hyuga. Kalo action-nya sendiri sih kurang gahar, malah Sasuke sendiri gak terlalu mendapat jatah tampil, kira - kira cuman 30 detik gak lebih aja. Jadi bagi anda - anda yang mencari adegan action yang "wow" atau menunggu momen Sasu - Saku pasti bakalan kecewa.
Selain hal - hal di atas, naskah-nya sendiri agak diluar nalar dan terkesan kurang bisa dipahami (entah karena subtitle Indonesia-nya sendiri yang agak melayu jadi mbah kurang paham), pokoknya mbah nyerah deh ama penjelasan -  penjelasan tentang akhir dunia serta tetek bengek mata byakugan sepanjang film ini.

Tapi nilai jual utama film ini adalah kejelasan hubungan antara Naruto dan Hinata yang gak banyak di-umbar sepanjang serialisasi-nya. Character design-nya juga keren, meskipun gak banyak berubah, tapi rambut cepak Naruto bikin dia makin gagah, Hinata juga unyu maksimal sampai - sampai mbah sempet mengira character designnya gak dibikin ama Studio Pierrot, tapi Kyoto Animation (sumfeh deh kawaii banget...). Sasuke juga makin misterius dan cool dengan chara-nya kali ini, sampe - sampe penonton cewek ampe teriak - teriak gak jelas gara kemunculan Sasuke yang cuma seupil doang ini.

So? Worthed or not?. Bagi yang tumbuh berkembang sejak masa Naruto masih ujian chuunin, maka film ini pastinya wajib untuk kalian tonton, semacam nostalgia juga sih sebenernya...
Kalo kalian - kalian yang baru nonton pas udah masuk era Shippuuden sih mungkin agak kecewa karena kurangnya unsur action di film ini.
Tapi pastinya kalian penasaran ama kejelasan status Naru - Hina kan?.
Ditangani sendiri oleh sang mangaka, Masashi Kishimoto, serta lagu ending-nya dari Sukima Switch yang berisikan scene yang mbah mimpikan selama ini (adegan apa itu hayooo?), The Last Naruto The Movie scored 7 out of 10.
Naruto fans must watch!!!.

Banjarmasin, 16 April 2015.
Reviewed by Mbah Budi
Untuk NontoNation http://twitter.com/nontonation BBM Channel: C004D520A


Wednesday, February 11, 2015

KINGSMAN: THE SECRET SERVICE (2015) REVIEW


Pria itu berlalu sambil melirik ke arah kami dan bergumam dengan lantang: "MAHO....".
Bukan salah mbah terpuruk ditengah para pria seperti ini, namun tentunya film ini sangatlah manly sehingga tentu saja penontonnya kebanyakan adalah para pria.
Jadi sekali lagi, antara mbah dgn om2 di sebelah kanan mbah atau remaja tanggung di sebelah kiri mbah, sesungguhnya tak ada relasi dan hubungan apapun.
Jadi janganlah men-judge kami sebagai pengikut dari kaum sodom atau maho atau homo atau gay atau apalah namanya...
Kami hanya punya satu kesamaan yaitu: NONTON SALAH SATU KUDA HITAM DI RANAH PERFILMAN HOLLYWOOD TAHUN INI.
Salam mandom....

Nama Matthew Vaughn semakin bersinar sejak menyutradarai X-Men: First Class dan Kick-Ass. Dan sekali lagi, Matthew Vaughn membesut sebuah film yg juga diangkat dari sebuah komik populer berjudul "The Secret Service".
Ladies and Gentlemen, here is Kingsman: The Secret Service.....

Kingsman adalah sebuah tailor shop yg terkenal sejak dulu karena memproduksi pakaian pesanan dr klien - klien ternama di dunia. Namun pada masa perang, seluruh keluarga Kingsman meninggal dan menyisakan warisan tak bertuan yg sangat banyak. Para pendehulu kemudian menggunakan uang tersebut untuk mendirikan sebuah organisasi agen rahasia swasta yang tak terpengaruh oleh kepentingan politik mana pun serta selalu menjalankan misinya secara rahasia dari bawah tanah.

Seorang calon agen Kingsman yang sedang berada dalam masa pelatihan terbunuh karena miskalkulasi dari agen Calahad. Sang calon agen tersebut meninggalkan seorang istri dan anaknya yang bernama Gary "Eggsy" Unwin. Sepeninggal kematian ayahnya, Eggsy tumbuh besar dalam kondisi broken home dan menjadi berandalan jalanan.
Terlibat kasus karena kenakalannya, Eggsy yang masih menyimpan medali penghormatan ayahnya menghubungi jalur telfon Kingsman untuk minta bantuan.

Agen Calahad alias agen Harry Hart yang masih dihantui rasa bersalah selama 17 tahun kemudian menemukan potensi besar pada diri Eggsy yang dapat dikembangkan untuk menjadi salah satu agen rahasia di organisasi Kingsman.
Sehubungan dengan gugurnya salah satu agen Kingsman bernama Lancelot, organisasi tersebut kemudian mengadakan seleksi dan ujian kepada sejumlah anak muda yang dianggap berpotensi menjadi Lancelot berikutnya. Harry Hart kemudian memilih Eggsy sebagai kandidat yang ia ajukan untuk mengikuti tes tersebut.

Di sisi lain, timbul ancaman dari seorang biliuner nyentrik bernama Valentine yang berambisi untuk melenyapkan sebagian besar populasi dunia dengan kedok penyelamatan iklim di bumi.
Mampukah para agen rahasia Kingsman menghentikan rencana Valentine?.
Serta mampukah Eggsy membuktikan bahwa dirinya sanggup menjadi salah satu agen rahasia Kingsman?.
Saksikan aksi spionase yang penuh dengan action berbalut humor segar hanya di Kingsman: Secret Service.

Diangkat dari buku komik karya Mark Millar dan Dave Gibbons berjudul "The Secret Service", kita bakal disuguhi adegan - adegan ala film komedi besutan terdahulu dari sang sutradara, Matthew Vaughn yaitu Kick-Ass (2010). Aksi spionase yg classy ala James Bond berpadu dgn adegan close combat yang menegangkan, namun tetap mempertahankan identitas film ini sebagai film komedi adalah kelebihan dari film ini. Tapi jangan harap mendapatkan cerita yang berat atau naskah yg rumit di film ini, karena secara tone-nya saja yang berwarna - warni menggambarkan bahwa film ini dibuat untuk tujuan fun. Kalau ingin mencari cerita yg berbobot, silakan tunggu sekuel dari 007 atau Mission Impossible yg juga tayang tahun ini.

Alur cerita film ini mudah untuk diikuti, meskipun agak keteteran ditengah jalan. Dari segi akting, kombinasi Colin Firth dengan Taron Egerton yang nota bene pendatang baru patut diacungi jempol. Colin Firth mampu memerankan karakter agen rahasia yang flamboyan dan classy dengan baik. Begitu pula dengan Taron Egerton yang mampu memerankan sosok yang awalnya bukan apa - apa namun bisa menjadi karakter yang kuat dan berkharisma. Sedangkan untuk karakter Valentine yang diperankan Samuel L. Jackson, meskipun menurut mbah pribadi kurang cocok, tapi harus diakui bahwa aktingnya kali ini juga lumayan bagus. Hanya saja ada beberapa karakter yang terkesan hanya numpang lewat harusnya bisa dimanfaatkan kehadiran mereka untuk lebih menyokong jalan cerita, atau mungkin lebih baik jika mereka dihilangkan saja.

Bagian terlemah dari film ini nampaknya adalah naskahnya yang cheesy dan beberapa bagian malah mudah tertebak akan kemana jalan ceritanya. Plot hole juga masih menghiasi beberapa adegan film ini. Namun, berhubung ini adalah sebuah film komedi yang  fun, maka hal - hal tersebut masih dapat dimaafkan. Oh iya, ada beberapa cerita yang agak kurang masuk akal di film ini, jadi mbah sarankan nikmati aja tanpa perlu pikir berat dan panjang.

Well, secara umum Kingsman: The Secret Service belum dapat mengatasi dahaga para pencinta film spionase selepas Skyfall pada 2012 yang lalu. Film ini lebih berkesan pop dengan pangsa pasar remaja dan usia 20 / awal 30-an. Ibaratnya makanan film ini layaknya nasi pecel yang ditaburi permen jelly diatasnya... (yikesss...-__-).
Dua - duanya sama - sama enak, tapi salah satu bagian harus lebih dominan dari pada bahan yang lainnya. Entah itu genre spionase, komedi, atau aksi-nya. Tapi Kingsman: The Secret Service tetaplah film yang sangat menghibur dan sangat worthed serta recommended untuk ditonton.

Sebagai pemanasan menyambut film James Bond ke-24, tentunya para penonton puas dgn film satu ini.
Karena seperti salah satu quote dalam film ini: "IT'S NOT KINDA MOVIE LIKE THAT".
Aksi menegangkan, humor segar, aksi spionase berkelas, serta gadget yang keren... KINGSMAN: The Secret Service scored 7,5 out of 10.
Sebagai tambahan, ada scene yang sangat bagus di akhir cerita yang sayang untuk dilewatkan (if you know what i mean...).

Salah khilaf mohon maaf.
Reviewed by Mbah Budi untuk NontoNation, Banjarmasin 12 Februari 2015.


Kingsman: The Secret Service (2014) on IMDb

Wednesday, August 6, 2014

INTO THE STORM (2014) Movie Review

Malam sebelum ane nntn film ini, dua org absurd datang ke rumah ane ngomongin tentang Sufisme hingga kelainan seksual dimana seseorg suka memainkan feses manusia sbg objeknya hingga larut malam. Alhasil, ane malah kurang tidur dan takut bakalan ketiduran didalam theater. But hey... ternyata film ini mampu bikin mata ane melek hingga akhir film. Ok, lets start the review.

Ada banyak review negatif tentang film Into The Storm ini, bahkan ratingnya cuman berakhir di angka 6. Dan kali ini review ane bakalan agak sedikit berbeda dari review - review tersebut. Berhubung ane bukan seorg movie nerd atau movie buff tapi hanyalah seorg penikmat film, jadi kali ini mbah akan memberikan review positif utk film yg terkesan jelek ini karena telah memanjakan mata saya.

Badai merupakan hal yg sudah lumrah dan sering terjadi di Amerika Serikat, namun intensitas-nya yg semakin meningkat dari tahun ke tahun menjadikan bencana ini sbg momok yg sangat menakutkan bagi warga AS pada umumnya. Tapi ini tak berlaku bagi Pete dan tim pemburu badai-nya, ditemani dgn ahli meteorologi mereka, Allison, juga mobil tahan badai mereka yang bernama Titus, tim ini bertugas mendokumentasikan badai yg terjadi di penjuru AS sedekat mungkin dgn lokasi badai tersebut. Dan kali ini mereka berpotensi mendokumentasikan salah satu badai terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Di lain tempat, sekolah umum Silverton sedang mengadakan acara kelulusan dibawah potensi bencana badai. Dua bersaudara, Donnie dan Trey bertugas mendokumentasikan acara tersebut. Namun tanpa mereka duga, mereka malah akan mendokumentasikan salah satu bencana mematikan yg bernama tornado.
Mampukah tim pemburu badai yg diketuai Pete utk merekam badai kali ini?. Apa jadinya setelah mereka tahu badai kali ini melebihi yg bisa mereka tangani?. Mampukah juga tim ini bersama dgn Donnie, Trey dan ayah mereka, Gary menyelamatkan warga di Silverton?. Saksikan Into The Storm di bioskop - bioskop terdekat di sekitar anda.

Film sepanjang 89 menit ini disutradarai oleh Steven Quale yg kita kenal juga menyutradarai Final Destination 5, second unit director di film Titanic, dan juga special effect supervisor di film Avatar-nya James Cameron. Jadi apabila kita melihat filmografi beliau, tentunya kita tidak akan heran kenapa film ini memiliki special effect yg luar biasa. Meski begitu, sang sineas nampaknya belum berhasil mengeksekusi film ini dengan sempurna. Into The Storm hanyalah sebuah film dengan adegan - adegan klise disana - sini, dan pastinya jalan ceritanya sangat mudah tertebak. Naskah yg ditulis oleh Jhon Swetnam (yg juga menulis naskah Step Up All In) ini begitu lemah dan terkesan blunder karena adegan yg harusnya menyentuh malah menjadi kehilangan kekuatan sentimentil-nya.
Dan anehnya, sepertinya para penonton malah terkesan tidak peduli pada keselamatan para tokoh difilm ini, karena para penonton cuma pengen ngeliat adegan badainya yang sangat sangat sangat... WOW!.
Film ini mencantumkan genre film mereka adalah Action Thriller, tapi bagi saya pribadi, saya harus menambahkan genre semi dokumenter utk film ini. Karena film ini sebenarnya sinematografinya mirip kayak film Paranormal Activity atau Grave Encounters, yap... film ini digarap memakai konsep first person angle. Ya agak kurang berasa sih dokumenternya krn pengambilan kameranya kurang shaky utk sebuah film dokumentasi amatir, tapi dgn begitu kita tidak akan kehilangan view yg sangat indah dari bencana badai yg tersaji di film ini. Efek yang disajikan bahkan membuat ane ngeluarin kalimat "OH SHIT! GODDAMN SHIT!!!" sepanjang adegan badai terjadi, ane gak habis pikir gimana cara mereka ngebikin film ini (meskipun beberapa adegan malah mirip dgn adegan di game Sim City atau City Tycoon ketika angle-nya diliat dari atas).

Yah... Into The Storm memang hanya sebuah film B-Class yg penuh dgn klise dan naskah yg lemah dan bahkan membosankan dibagian drama-nya. Akting dari aktor dan aktrisnya juga biasa aja, nothing special lah... (bahkan ane ampe lupa ngecantumin nama2 aktor dan aktrisnya di review ini, biarin deh). Tapi film ini adalah sebuah film kelas B yg berkelas, worthy to watch banget deh pokoknya, kenapa?. Karena dgn review yg kebanyakan bernada negatif di review ane kali ini, ane malah ngasih rating 80 dari total 100 poin. What?! Are you insane??!!! Gile lu, Ndrooo!. No... this movie is very worthy to watch dgn segala macam kelemahannya, adegan badainya adalah salah satu best cinematic experience yg pernah ane dapat di sebuah film. Jadi pada intinya, menonton film ini adalah dilema, dilema ketika kita malah menikmati sebuah sajian film yg sebenarnya jelek.

Reviewed by mbahbudi, Banjarmasin, 07 Agustus 2014.

Tuesday, June 10, 2014

Danshi Koukousei no Nochijou (Japan) (2013) Review

Tiada masa paling indah~
Masa masa disekolah~
Tiada kisah paling indah~
Kisah kasih disekolah...

Taikkk... Thats song full of LIE!!!!
Mungkin 90% orang orang yg pernah mengecap bangku sekolah SMA bakalan nganggap kalo masa sma adlh masa yg paling menyenangkan dalam kehidupan mereka. Menurut gua sih salah besar... Especially for me...
Bagi gue, cerita dalam film Danshi Koukousei No Ichijou ini lebih cocok utk menggambarkan kehidupan SMA gua yg mengenaskan.

Tadakuni, Tabata Hidenori, dan Tanaka Yoshitake menghabiskan masa SMA mereka dengan sangat absurd dan gak jelas di sebuah SMA yg isinya hanya terdiri dari kaum adam saja. Tak hanya di sekolah, tingkah ganjil mereka bahkan tetap berlanjut tatkala mereka ngumpul di rumah Tadakuni, bahkan tak jarang "benda - benda" milik adik Tadakuni menjadi sasaran inspirasi kelakuan aneh mereka. Dan tentu saja karena tingkah absurd & sekolah mereka itu, mereka agak "ketinggalan" dalam hal asmara.
Namun kejutan datang tiba - tiba, dalam festival sekolah tahun ini, sekolah mereka harus mengadakannya secara gabungan dengan sekolah khusus wanita. Seantero sekolah yg katrok dengan makhluk bernama "cewek"ini pun mulai rusuh dan heboh ketika sekolah mereka didatangi serombongan siswi dari sekolah tersebut, tak terkecuali trio gaje Tadakuni ini.
Meskipun selalu memasang tampang poker face dan nge-hang tiap berhadapan dengan kaum hawa ini, mereka tetap berusaha menunjukkan bahwa mereka keren dan cool... Mampukah??? Gimana jadinya dgn festival sekolah mereka tahun ini yg berpotensi menjadi bencana???.

Danshi Koukousei no Ichijou atau dalam judul bahasa inggrisnya "Daily Lives of High School Boys" ini diangkat dari manga dan anime berjudul sama karangan Yamaguchi Yasunobu yang versi anime-nya tayang pada tahun 2012. Versi live actionnya sendiri rilis di Jepang pada tanggal 12 Oktober 2013 yang lalu. Manga dan anime-nya sendiri mendapat respon yg positif karena ceritanya yg gak biasa dan konyol serta mampu mengocok perut.
Dibawah studio Showgate, Danshi Koukousei no Ichijou versi live action ini disutradarai oleh Matsui Daigo serta menyajikan aktor - aktor tampan sebagai tokoh utama di film ini. Masaki Suda yg lebih kita kenal sebagai karakter Phillip di Kamen Rider W memerankan Tadakuni, tokoh lain dari seri Kamen Rider yaitu Yoshizawa Ryo yg berperan sbg Sakuta Ryosei di Kamen Rider Fourze kali ini memerankan tokoh Tabata Hidenori, dan Nomura Shuuhei melengkapi trio baka ini sebagai Tanaka Yoshitake.

Jadi kalo belum pernah nonton anime atau belum baca manga-nya bisa nikmatin film ini gak, bang?. Ane sendiri pernah nonton versi anime-nya (nontonnya dari laptop pinjaman lagi...), jadi gak susah bagi ane utk memahami alur dan joke - joke yg ada di film ini. Meski begitu, versi live action ini tetap berhasil mengocok perut ane, soalnya banyak scene ikonik yg ada dlm versi animenya juga tampil di film ini. Film ini sebenarnya mengambil cerita dari bbrp episode di versi animenya, yg udah nonton episode - episode ini tentunya gak bakalan kesulitan ngikutin keanehan di film ini. Tapi tenang aja, dasarnya film ini emang gak ada jalan cerita yg solid, film ini pure 100% comedy, jadi gak perlu mikir berat berat deh nonton film ini. Lagian aktris - aktrisnya pada imut2 dan kawaii maksimal (yg kata temen ane selalu ngingetin dia ama produk b*kep jepang, AV Idol, dan sejenisnya), jadi pastinya mata bakalan terhibur ama kehadiran para gadis ini.

Utk sebuah ukuran film, Danshi Koukousei no Ichijou tidak memberikan dasar jalan cerita yg oke, tapi utk sebuah hiburan, film ini layak ditonton, terutama bagi anda - anda yang ingin nostalgia dengan masa - masa SMA anda dulu. Setidaknya film ini menyadarkan ane bahwa meskipun kehidupan asmara gue dulu sangat mengenaskan, setidaknya zaman SMA dulu sdh melahirkan sebuah persahabatan tulus yg masih awet hingga sekarang (muntah dipojokan). Daily Lives of High School Boys scored 65 out of 100.

Reviewed by mbahbudi, Banjarmasin 10 Juni 2014.


Posted via Blogaway

Friday, June 6, 2014

HIGHWAY (Bolly) (2014) Movie Review

Bollywood...
Gue anti ama jenis film beginian... Ceritanya pasti ttg cinta - cintaan yg pada akhirnya akan menjurus pada adegan joget - jogetan pake musik ala India. Namun kenyataannya ane malah berakhir dgn menulis review dr film "Highway" sambil ditemani lagu Patakha Guddi-nya Sultan Nooran & Jyoti Nooran gubahan A.R. Rahman.

(Peringatan: Semakin sedikit anda mengetahui plot cerita film ini, semakin baik bagi anda, karena story dan character development-nya emang dibangun setahap demi setahap dari awal film. Semakin anda tidak mengetahui ceritanya, akan semakin enjoy anda menontonnya. Ane bakalan berusaha menulis review ini sebisa mungkin spy tidak terlalu banyak membeberkan isi cerita)

Veera Tripathi (Aila Bhatt) adlh putri dari M.K. Tripathi, seorg konglomerat kelas dunia yg memiliki peran penting di perpolitikan India. Bbrp hari lagi ia akan mengadakan pernikahan namun krn suatu situasi, Veera malah berakhir menjadi sandera dari kelompok bandit yg dikepalai oleh Mahabir (Randeep Hooda). Mengetahui bahwa sandera-nya ternyata putri dari salah satu org paling berkuasa di pemerintahan, Mahabir memulai pelarian dirinya sambil memboyong Veera dan bbrp anggota rombongan bandit-nya guna mendapatkan tebusan uang.
Perjalanan melintasi Hindustan dan pegunungan Nepal yg awalnya membuat Veera dan Mahabir frustasi kemudian malah menjadi awal munculnya kejadian2 absurd yang merubah cara pandang kehidupan mereka. Mampukah Mahabir melarikan diri dan mendapatkan uang tebusannya?. Atau berhasilkah Veera melarikan diri dari bandit2 yg diketuai oleh pimpinan yg bengis ini?. Atau...????.

Bagi gue, film India yg bagus akhir2 ini cuman Slumdog Millionaire ama Rabne Bana Di Jodi (mungkin 3 Idiots juga? ane blm sempet nntn sih...). Jadi ane gak berekspektasi macam2 ama film yg dibidani Imtiaz Ali ini, selain itu dua buah film karya-nya sebelumnya (Love Aaj Kal dan Rockstar) juga kurang "nendang". Tapi ternyata film ini malah bikin ane gak bisa move on setelah menontonnya, dan secara ajaib menjadi salah satu film favorit ane.

Oke... mari kita bedah film ini.

Secara umum tema film ini bknlah sesuatu yg baru, karena bbrp film seperti A Perfect World (1993), The Chase (1994), Excess Baggage (1997) dan Big Hit (1998) sdh lebih dulu menghadirkan film macam ini. Dari alur cerita pun kalo kita sdh mengetahui tema keseluruhan film ini, maka sebenarnya film ini alurnya gampang ditebak. Bahkan kita sdh bisa memprediksi bakalan kayak gimana ending cerita ini sejak pertengahan cerita. Tapi bukannya menjadi kelemahan, kita malah tak perlu berpikir berat2 utk menikmati film ini. Meskipun ada sebagian org yang terkecoh kalo film ini memiliki tema cinta alam dan lingkungan hidup karena lokasi shooting yg benar2 indah dan sang sutradara memang mengeksplor keindahan alam dari lokasi secara efektif.

Jadi apa sebenarnya kekuatan dari film ini yg bikin ane kagak bisa move on ampe nntn anime aja jadi males?.
Shame to say... tapi sang aktris, Aila Bhatt lah yg bikin ane kagak bosen nntn film ini meskipun di-ulang ulang berpuluh - puluh kali. Aktris berusia 20 thn ini mampu memerankan karakter Veera secara mendalam dan apik sehingga menuai pujian dan semakin membuat namanya bersinar di belantika Bollywood. Aktingnya di Highway yg nyaris tanpa make-up ini semakin membuat karakter yg diperankannya semakin menggemaskan. Debut sbg pemeran utama di film "Student of The Year" pd 2012 lalu, Highway merupakan sebuah pengalaman berbeda bagi Aila, terutama bagaimana ia memainkan berbagai perubahan ekspresi dan emosi di tiap2 scene film ini. Sementara sebagian org skeptis kalau Aila hanya akan bermain di film2 komersil yg temanya pasaran, dia mampu menjawabnya dgn perannya yg berbeda dari peran yg pernah ia bawakan sebelumnya. Dan tantangan beradu akting dgn aktor yg jauh lebih tua darinya, yaitu Randeep Hooda berhasil dilalui dgn mudah oleh putri dari produser dan sutradara merangkap penulis naskah Mahesh Bhatt ini (ibunya, Soni Razdan jg seorg aktris dan sutradara loh).

Dengan ikut sertanya sang komposer kaliber Oscar, A.R. Rahman (yg memenangkan 2 piala oscar lewat Slumdog Millionaire) tentunya tak ada keraguan lagi mengenai musikalitas dari film ini. Tapi sebenarnya film ini pelit dlm memasang background music di tiap2 adegannya, krn Imtiaz Ali lebih memilih utk menonjolkan dialog dan emosi dari aktor/aktrisnya sebagai penyokong cerita daripada memasang scoring di filmnya ini, maka otomatis lagu2 gubahan A.R. Rahman sajalah yg berseliwaran sepanjang film. Bahkan sang aktris, Aila Bhatt jg debut sbg penyanyi dlm lagu Sooha Saaha yg juga digubah A.R. Rahman utk film ini.

Ide cerita dari film ini sebenarnya telah ada dibenak sang sineas sejak 15 tahun yg lalu, dgn banyak tambal sulam, akhirnya kerja keras Imtiaz Ali utk menyajikan film yg berbeda dr film Bollywood yg lain membuahkan hasil. Meskipun raupan penghasilan film ini sempat terseok-seok di awal rilis filmnya, namun akhirnya "Highway" berhasil meraih posisi sbg salah satu film hit di Boolywood. Metascore film ini pun mengecewakan, karena hanya membukukan skor 40%, namun skor IMDb-nya sendiri cukup memuaskan dgn skor 78 dari total skor 100. Dan bagi gue sendiri, dgn akting mumpuni dr Aila sang bintang Bollywood masa depan, serta arahan yg apik dr sang sutradara, Imtiaz Ali, serta musik yg indah dr A.R. Rahman, film ini mampu menjawab rasa dahaga ane akan film Drama Romance yg tak hanya manis dan indah, namun juga menginspirasi. Ane ngasih skor 90 dari total 100 poin utk film yg brilian ini. Well done execution....

Reviewed by: mbahbudi, Banjarmasin, 04 Juni 2014.

Posted via Blogaway


Posted via Blogaway